Selasa, 03 November 2015
hakekat pencak silat sh
HAKEKAT PENCAK SILAT SETIA HATI:Seperti telah dikemukakan terlebih dahulu, Pencak-Silat “SH” pada hakekatnya adalahperwujudan dari-pada gerak mobah-molah insan SH. Dalam rangka menghindari atau meniadakan aral-lintangatau “rubeda” guna mempertahankan diri.Dalam pada itu perlu disadari pula, bahwa sebetulnya yang dianggap “rubeda” yang sangat berbahaya itu pada umumnya datangnya tidak dari luar diri kita, tetapi justru dari dalam kita sendiri, dalam bentuk hawa nafsu yang berlebih-lebihan.Hawa nafsu inilah yang menjelma menjadi kehendak-keinginan dan kemudian menguasai “aku” kita. Ini tidak mungkin dilumpuhkan dengan ketangkasan dan ketrampilan jasmani, tetapi harus dilumpuhkan dengan kekuatan atau kesentausaan rochkani. Dengan kata lain dengan kekuatan dan kesentausaan Iman.Kekuatan dan kesentausaan iman itu didapatkannya dengan olah jiwa. Oleh karenanya para kadhang diharuskan disamping berolah-raga juga berolah-jiwa,agar mempunyai kekuatan rokhani sewaktu-waktu diperlukan, untuk menghadapi tantangan-tantangan yang tersembunyi atau tidak kasat mata. Namundemikian hendaknya diusahakan agar kekuatan rokhani itu dihimpun dari kekuatan yang melandas kepada TUHAN YANG MAHA ESA.
R.M soetomo mangkoedjojo
Beliau adalah murid dari Ki Hadjar Hardjo Oetomo ( Pendiri PSHT ). R.M. Soetomo Mangkoedjojo adalah seorang Pendekar Tingkat III , R.M. Soetomo Mangkoedjojo disyahkan menjadi pendekar tingkat I pada tahun 1928. Berikut murid – murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang disyahkan pada tahun 1928 adalah sebagai berikut :
- Bapak Soetomo Mangkoedjojo ( Madiun )
- Bapak Hardjosajano alias Hardjo Girin ( Kepatihan Madiun )
- Bapak Moch Irsad ( Madiun )
- Dewan pengesah : Ki Hadjar Hardjo Oetomo
- Pelaksanaan Pengesahan : Di kediaman Ki Hadjar Hardjo Oetomo, Desa Pilangbango Madiun.
Kemudian pada tahun 1936 R.M. Soetomo Mangkoedjojo mendirikan Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Ponorogo, dan pengesahan pertama dilakukan pada tahun 1938 yang mengesahkan sebanyak 4 orang.
Pada tahun 1948 beberapa murid Ki Hadjar Harjo Oetomo antara lain Soetomo Mangkoedjojo, Darsono, Suprodjo, Hardjo Giring, Gunawan, Hadisubroto, Hardjo Wagiran, Letnan CPM Sunardi, Sumadji al. Atmadji, Badini, Irsad dan kawan – kawan mempunyai prakasa untuk mengadakan konfrensi di tempat kediaman Ki Hadjar Harjo Oetomo . Tujuan diadakan konfrensi tersebut adalah untuk merubah / mengganti sifat Perguruan menjadi Organisasi Setia Hati Terate yang mempunyai Anggaran dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Setelah Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate dikukuhkan menjadi suatu organisasi maka di pilihlah R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai ketua dan Bapak Darsono sebagai wakil ketua.
Kemudian pada tahun 1953 karena pekerjan beliau dipindah tugaskan ke Surabaya selanjutnya Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate diserah terimakan kepada bapak Irsad.
Pada tahun 1958 R.M. Soetomo Mangkoedjojo mengesahkan Sdr. R.M Imam Kussupangat, Sdr. Kuswanto. BA dan Sdr. Harsanto. SH menjadi warga tingkat I, pengesahan dilakukan di Oro – Oro Ombo Madiun di rumah Bapak Santoso.
Pada tahun 1963 R.M. Soetomo Mangkoedjojo melatih langsung Sdr. R.M Imam Kussupangat tingkat II. Dan pada tahun 1964 Sdr. R.M Imam Kussupangat disyahkan menjadi warga tingkat II, pengesahan dilaksanakan di Jl. Diponegoro 45 Madiun oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai Dewan Pengesah.
Pada tahun 1966 Sdr. R.M Imam Kussupangat mulai menjalani latihan tingkat III karena dianggap berhak untuk menerima ilmu Setia Hati tingkat III oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo. Dimana ilmu tersebut berdasarkan “Wahyu” dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Semenjak itu Sdr. R.M Imam Kussupangat dimulai latihan tingkat III dilatih dan disyahkan oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo ( sebagai Ketua Dewan Pusat dan Dewan Pengesah ). Maka dari itu Sdr. R.M Imam Kussupangat tidak lepas sedikitpun peranan dan bimbingan dari R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai pelatih atau disebut sebagai guru dalam pendidikan tingkat II maupun tingkat III
Tahun 1974 diselenggarakan Musyawarah Besar ( MUBES ) I Persaudaraan Setia Hati Terate dengan kesepakatan mengangkat R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai Ketua Dewan Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate dan R.M. Imam Kussupangat sebagai Ketua Umum Pusat.
Pada tanggal 14 Desember 1975 R.M. Soetomo Mangkoedjojo wafat dan dimakamkan di Makam Cangkring Madiun.
Berikut adalah kedudukan yang pernah dipegang oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo dalam organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate
- Tahun 1948 adalah Ketua Umum Pusat yang pertama Persaudaraan Setia Hati Terate ( dari “ perguruan “ menjadi “ organisasi “ )
- Tahun 1956 Ketua Umum Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate,
- Tahun 1964 Ketua Umum Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate
- Tahun 1974 Ketua Dewan Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate
Demikian sedikit perjalanan hidup tentang R.M. Soetomo Mangkoedjojo, mudah – mudahan dengan sedikit catatan ini bisa membantu untuk tambahnya pengertian dan pengetahuan kita semua agar wawasan sejarah berdirinya Persaudaraan Setia Hati Terate sampai dengan perkembangannya dapat kita ikuti dan ketahui bersama secara tepat dan benar.
- Bapak Soetomo Mangkoedjojo ( Madiun )
- Bapak Hardjosajano alias Hardjo Girin ( Kepatihan Madiun )
- Bapak Moch Irsad ( Madiun )
- Dewan pengesah : Ki Hadjar Hardjo Oetomo
- Pelaksanaan Pengesahan : Di kediaman Ki Hadjar Hardjo Oetomo, Desa Pilangbango Madiun.
Kemudian pada tahun 1936 R.M. Soetomo Mangkoedjojo mendirikan Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Ponorogo, dan pengesahan pertama dilakukan pada tahun 1938 yang mengesahkan sebanyak 4 orang.
Pada tahun 1948 beberapa murid Ki Hadjar Harjo Oetomo antara lain Soetomo Mangkoedjojo, Darsono, Suprodjo, Hardjo Giring, Gunawan, Hadisubroto, Hardjo Wagiran, Letnan CPM Sunardi, Sumadji al. Atmadji, Badini, Irsad dan kawan – kawan mempunyai prakasa untuk mengadakan konfrensi di tempat kediaman Ki Hadjar Harjo Oetomo . Tujuan diadakan konfrensi tersebut adalah untuk merubah / mengganti sifat Perguruan menjadi Organisasi Setia Hati Terate yang mempunyai Anggaran dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Setelah Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate dikukuhkan menjadi suatu organisasi maka di pilihlah R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai ketua dan Bapak Darsono sebagai wakil ketua.
Kemudian pada tahun 1953 karena pekerjan beliau dipindah tugaskan ke Surabaya selanjutnya Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate diserah terimakan kepada bapak Irsad.
Pada tahun 1958 R.M. Soetomo Mangkoedjojo mengesahkan Sdr. R.M Imam Kussupangat, Sdr. Kuswanto. BA dan Sdr. Harsanto. SH menjadi warga tingkat I, pengesahan dilakukan di Oro – Oro Ombo Madiun di rumah Bapak Santoso.
Pada tahun 1963 R.M. Soetomo Mangkoedjojo melatih langsung Sdr. R.M Imam Kussupangat tingkat II. Dan pada tahun 1964 Sdr. R.M Imam Kussupangat disyahkan menjadi warga tingkat II, pengesahan dilaksanakan di Jl. Diponegoro 45 Madiun oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai Dewan Pengesah.
Pada tahun 1966 Sdr. R.M Imam Kussupangat mulai menjalani latihan tingkat III karena dianggap berhak untuk menerima ilmu Setia Hati tingkat III oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo. Dimana ilmu tersebut berdasarkan “Wahyu” dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Semenjak itu Sdr. R.M Imam Kussupangat dimulai latihan tingkat III dilatih dan disyahkan oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo ( sebagai Ketua Dewan Pusat dan Dewan Pengesah ). Maka dari itu Sdr. R.M Imam Kussupangat tidak lepas sedikitpun peranan dan bimbingan dari R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai pelatih atau disebut sebagai guru dalam pendidikan tingkat II maupun tingkat III
Tahun 1974 diselenggarakan Musyawarah Besar ( MUBES ) I Persaudaraan Setia Hati Terate dengan kesepakatan mengangkat R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai Ketua Dewan Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate dan R.M. Imam Kussupangat sebagai Ketua Umum Pusat.
Pada tanggal 14 Desember 1975 R.M. Soetomo Mangkoedjojo wafat dan dimakamkan di Makam Cangkring Madiun.
Berikut adalah kedudukan yang pernah dipegang oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo dalam organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate
- Tahun 1948 adalah Ketua Umum Pusat yang pertama Persaudaraan Setia Hati Terate ( dari “ perguruan “ menjadi “ organisasi “ )
- Tahun 1956 Ketua Umum Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate,
- Tahun 1964 Ketua Umum Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate
- Tahun 1974 Ketua Dewan Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate
Demikian sedikit perjalanan hidup tentang R.M. Soetomo Mangkoedjojo, mudah – mudahan dengan sedikit catatan ini bisa membantu untuk tambahnya pengertian dan pengetahuan kita semua agar wawasan sejarah berdirinya Persaudaraan Setia Hati Terate sampai dengan perkembangannya dapat kita ikuti dan ketahui bersama secara tepat dan benar.
sumber ilmu eyang suro
Sumber Ilmu Kebhatinan bdan Ilmu Pencak Silat dari Persaudaraan Setya Hati yang diajarkan oleh Ki Ngabehi Soerodiwiryo adalah ‘SARI-SARI’ ajaran yang beliau dapatkan dari berguru pada para pendekar pada jamannya , dan digunakan sebagai dasar pemberian pelajaran kepada keluarga besar Persaudaraan Setya Hati sampai sekarang .
SUMBER ILMU KEBHATINAN
PERTAMA : Didapat dari GUSTI KENANGA MANGGA TENGAH asal dari Bali yang bernama asli NYOMAN IDE GEMPOL yang bertempat tinggal di Oleleh (Aceh) , seorang Ponggawa Besar yang diselong ( diasingkan ) dibuang oleh Pemerintah Kolonial Belanda ke Aceh . Dari beliau didapat wejangan ilmu kebhatinan yang oleh Ki Ngabehi Soerodiwiryo dipergunakan sebagai syarat-syarat penerimaan saudara-saudara SH baru yang berujud : Air Kecer , Mori Putih , Lambang-lambang , Uang Ketengan (yang mempunyai nilai terendah) , Letak Kekuatan Tubuh Manusia Tiap Hari ( makna sircle ) , pemberian wejangan ini disebut WEJANGAN TINGKAT PERTAMA ( Trap Pertama ) .
KEDUA : Didapat dari DATUK RADJO BATUAH , yang merupakan ajaran / wejangan Ilmu Kebhatinan dari Sumatra Barat yang berujud 2 (dua) kalimat rafal yang bermaksud ‘menyadarkan diri manusia’ dengan segenap akal budi nya secara totalitas kepada Allah beserta Rosulnya , agar diri atau tubuh terhindar dari segala mara bahaya .
2 ( dua ) kalimat rafal dari Datuk Radjo Batuah ini diajarkan kepada saudara-saudara SH sebagai WEJANGAN TINGKAT KEDUA ( Trap Kedua ) .
Wejangan Tingkat Kedua mengandung 3 (tiga) kalimat rafal , adapun rafal ke tiga didapat dari K.A.A.Serang Soeronegoro ( Bupati Kediri yang meninggal Th.1916 M ) . Dari Bupati Kediri ini selain mendapat rafal ketiga , kepada Ki Ngabehi Soerodiwiryo juga diberikan ‘Coretan Gaib’ dimana sebelum membuat coretan gaib ini , seseorang harus menebus dengan laku puasa membisu .
Apabila para saudara ingin menyaksikan dipersilahkan datang dipendopo Kabupaten Kediri dan mengamat-amati ukir-ukiran pada ompak (alas) empat sokoguru (tiang) pendopo kabupaten tersebut .
Coretan Gaib ini tidak termasuk ‘wejangan tingkat kedua’ , tetapi diberikan beliau kepada para saudara SH yang selalu dekat dengan beliau dengan tambahan syarat harus sanggup mencari cara menulis dan membuatnya .
KETIGA : Didapatkan juga dari GUSTI KENANGA MANGGA TENGAH selain wejangan tingkat pertama ( trap pertama ) , diterima untuk saudara-saudara SH terpilih untuk mendapatkan WEJANGAN TINGKAT KETIGA ( Trap Ketiga ) , dimana wejangan ini merupakan ajaran tertinggi bagi saudara-saudara SH tentang ‘SANGKAN PARANING DUMADHI’ yang mengajar kepada saudara SH untuk mengenal ‘Sangkaning dumadhi’ dan pada akhirnya nanti tahu kemana ‘Paraning Dumadhi’ .
Bagi saudara-saudara SH yang telah mendapatkan wejangan lengkap tersebut diatas , sudah diberi kewenangan untuk menjadi ‘Juru Kecer’ dalam penerimaan saudara-saudara SH baru secara dulu Ki Ngabehi Soerodiwiryo almarhum melaksanakan .
SUMBER PENCAK SILAT
Salah seorang guru pencak silat yang dianggap terbaik permainannya disamping memberi wejangan-wejangan ‘Dua Kalimat Rafal’ adalah DATUK RADJO BATUAH dari Sumatra Barat .
Dimana nama ‘Datuk Radjo Batuah’ selalu diperingati pada tiap-tiap selamatan upacara penerimaan saudara SH baru , lain guru dan pendekar tidak disebutkan namanya pada selamatan ini , tetapi beberapa permainan pencak silat yang dianggap penting yang melengkapi jurus-jurus pencak setya hati selalu diperingati dengan selamatan pada upacara tersebut .
Selain memperingati permainan-permainan pencak silat yang akan dipelajari tiap saudara saudara SH pada selamatan itu harus pula ‘memperingati asal mula terjadinya sebagai manusia dan letak berdirinya dibumi ini’ .
Peringatan yang terakhir ini , tidak hanya pada waktu upacara penerimaan saudara baru saja , tetapi tiap-tiap berhajat apa saja beliau selalu mengingatkan saudara-saudara tua SH dahulu untuk supaya tidak lupa ‘Ingat akan Sangkan Paraning Dumadhi’ , sehingga pada waktu berlatih sambung diwujutkan dengan ‘Uluk Salam’.
Upacara selamatan dimaksud agar saudara SH yang mempunyai hajad itu memperingati awal mulanya hidup didunia ini , dan yang kedua ialah agar supaya mendapat restu dan berkenan menerima wejangan-wejangan ilmu kebatinan dan permainan pencak silat guna dapat mengalahkan segala bahaya .
Kejujuran Ki Ngabehi Soerodiwiryo yang selalu dibuktikan ialah , bahwa beliau selalu tidak melupakan jasa-jasa gurunya . Pada waktu-waktu memberikan pelajaran pencak silat selalu ditegaskan bahwa tegak-tegak ( stand ) atau langkah-langkah dan gerakan-gerakan tangan yang diajarkan itu didapat dari pendekar A dan B , dan permainan -permainan dari daerah C dan D dan begitu seterusnya . Demikian juga halnya dengan ilmu kebhatinan nya .
Beliau dikalangan persaudaraan SH tidak suka disebut guru melainkan minta supaya disebut ‘saudara tertua’ saja , menurut keterangan beliau bahwa dalam mencari kepandaian pencak silat yang terpenting harus ‘mempunyai kemauan keras dan sangat berani’ .
Sumber-sumber permainan pencak silat SH asalnya telah diuraikan pada riwayat hidup Ki Ng. Soerodiwiryo dimuka , dari sumber-sumber itulah beliau mengambil sari-sarinya dengan dicampur , diteliti berdasarkan pengalaman-pengalaman sambung dan latihan di berbagai tempat , cobaan-cobaan yang didapatkan dari perguruan lain atau dari perkelahian-perkelahian .
Hasil dari pengambilan sari yang dicampur dan diubah secara teliti itulah yang memungkinkan beliau berhasil menciptakan beberapa jurus pencak silat yang digunakan sebagai dasar permainan pencak silat ‘Setya Hati’ .
ASAL MULA NAMA JURUS-JURUS PENCAK SILAT SETYA HATI
1. BETAWEN I
2. BETAWEN II
3. CIMANDE I
4. CIMANDE II
5. CIKALONG (slewah)
6. CIAMPEA I (besutan)
7. CIAMPEA II (krawilan)
8. TANAH BARU I
9. TANAH BARU II
10. PERMAINAN MONYETAN
11. CIMANDE III (kletan)
12. CIMANDE IV
13. CIMANDE V
14. CIBEDUYUT (toya)
15. PADANG PANJANG I
16. PADANG PANJANG II
17. CIPETIR
18. PADANG SIRANTI
19. SUMEDANGAN I
20. SUMEDANGAN II
21. LINTAU
22. CIMANDE VI
23. ALANG LAWAS I
24. ALANG LAWAS II
25. MINANGKABAU I (kucingan)
26. SOLOK MINANG
27. CIBEDUYUT
28. CIMANDE VII
29. TERLAKAN MONYETAN TUKANG[STERLAK](tdk diajarkan)
30. PADANG ALAI I
31. PADANG ALAI II
32. FORD DE KOCK
33. PADANG ALAI III
34. PADANG ALAI IV
35. KUDA BATAK
36. SIPAI MINANG III (blirik)
Oleh karena dalam penulisan ‘buku peringatan’ ini bukan untuk digunakan sebagai buku pelajaran pencak silat , maka disini tidak ditulis ataupun digambar bagaimana wujud dan cara mengerjakan jurus-jurus pencak silat SH .
SUMBER ILMU KEBHATINAN
PERTAMA : Didapat dari GUSTI KENANGA MANGGA TENGAH asal dari Bali yang bernama asli NYOMAN IDE GEMPOL yang bertempat tinggal di Oleleh (Aceh) , seorang Ponggawa Besar yang diselong ( diasingkan ) dibuang oleh Pemerintah Kolonial Belanda ke Aceh . Dari beliau didapat wejangan ilmu kebhatinan yang oleh Ki Ngabehi Soerodiwiryo dipergunakan sebagai syarat-syarat penerimaan saudara-saudara SH baru yang berujud : Air Kecer , Mori Putih , Lambang-lambang , Uang Ketengan (yang mempunyai nilai terendah) , Letak Kekuatan Tubuh Manusia Tiap Hari ( makna sircle ) , pemberian wejangan ini disebut WEJANGAN TINGKAT PERTAMA ( Trap Pertama ) .
KEDUA : Didapat dari DATUK RADJO BATUAH , yang merupakan ajaran / wejangan Ilmu Kebhatinan dari Sumatra Barat yang berujud 2 (dua) kalimat rafal yang bermaksud ‘menyadarkan diri manusia’ dengan segenap akal budi nya secara totalitas kepada Allah beserta Rosulnya , agar diri atau tubuh terhindar dari segala mara bahaya .
2 ( dua ) kalimat rafal dari Datuk Radjo Batuah ini diajarkan kepada saudara-saudara SH sebagai WEJANGAN TINGKAT KEDUA ( Trap Kedua ) .
Wejangan Tingkat Kedua mengandung 3 (tiga) kalimat rafal , adapun rafal ke tiga didapat dari K.A.A.Serang Soeronegoro ( Bupati Kediri yang meninggal Th.1916 M ) . Dari Bupati Kediri ini selain mendapat rafal ketiga , kepada Ki Ngabehi Soerodiwiryo juga diberikan ‘Coretan Gaib’ dimana sebelum membuat coretan gaib ini , seseorang harus menebus dengan laku puasa membisu .
Apabila para saudara ingin menyaksikan dipersilahkan datang dipendopo Kabupaten Kediri dan mengamat-amati ukir-ukiran pada ompak (alas) empat sokoguru (tiang) pendopo kabupaten tersebut .
Coretan Gaib ini tidak termasuk ‘wejangan tingkat kedua’ , tetapi diberikan beliau kepada para saudara SH yang selalu dekat dengan beliau dengan tambahan syarat harus sanggup mencari cara menulis dan membuatnya .
KETIGA : Didapatkan juga dari GUSTI KENANGA MANGGA TENGAH selain wejangan tingkat pertama ( trap pertama ) , diterima untuk saudara-saudara SH terpilih untuk mendapatkan WEJANGAN TINGKAT KETIGA ( Trap Ketiga ) , dimana wejangan ini merupakan ajaran tertinggi bagi saudara-saudara SH tentang ‘SANGKAN PARANING DUMADHI’ yang mengajar kepada saudara SH untuk mengenal ‘Sangkaning dumadhi’ dan pada akhirnya nanti tahu kemana ‘Paraning Dumadhi’ .
Bagi saudara-saudara SH yang telah mendapatkan wejangan lengkap tersebut diatas , sudah diberi kewenangan untuk menjadi ‘Juru Kecer’ dalam penerimaan saudara-saudara SH baru secara dulu Ki Ngabehi Soerodiwiryo almarhum melaksanakan .
SUMBER PENCAK SILAT
Salah seorang guru pencak silat yang dianggap terbaik permainannya disamping memberi wejangan-wejangan ‘Dua Kalimat Rafal’ adalah DATUK RADJO BATUAH dari Sumatra Barat .
Dimana nama ‘Datuk Radjo Batuah’ selalu diperingati pada tiap-tiap selamatan upacara penerimaan saudara SH baru , lain guru dan pendekar tidak disebutkan namanya pada selamatan ini , tetapi beberapa permainan pencak silat yang dianggap penting yang melengkapi jurus-jurus pencak setya hati selalu diperingati dengan selamatan pada upacara tersebut .
Selain memperingati permainan-permainan pencak silat yang akan dipelajari tiap saudara saudara SH pada selamatan itu harus pula ‘memperingati asal mula terjadinya sebagai manusia dan letak berdirinya dibumi ini’ .
Peringatan yang terakhir ini , tidak hanya pada waktu upacara penerimaan saudara baru saja , tetapi tiap-tiap berhajat apa saja beliau selalu mengingatkan saudara-saudara tua SH dahulu untuk supaya tidak lupa ‘Ingat akan Sangkan Paraning Dumadhi’ , sehingga pada waktu berlatih sambung diwujutkan dengan ‘Uluk Salam’.
Upacara selamatan dimaksud agar saudara SH yang mempunyai hajad itu memperingati awal mulanya hidup didunia ini , dan yang kedua ialah agar supaya mendapat restu dan berkenan menerima wejangan-wejangan ilmu kebatinan dan permainan pencak silat guna dapat mengalahkan segala bahaya .
Kejujuran Ki Ngabehi Soerodiwiryo yang selalu dibuktikan ialah , bahwa beliau selalu tidak melupakan jasa-jasa gurunya . Pada waktu-waktu memberikan pelajaran pencak silat selalu ditegaskan bahwa tegak-tegak ( stand ) atau langkah-langkah dan gerakan-gerakan tangan yang diajarkan itu didapat dari pendekar A dan B , dan permainan -permainan dari daerah C dan D dan begitu seterusnya . Demikian juga halnya dengan ilmu kebhatinan nya .
Beliau dikalangan persaudaraan SH tidak suka disebut guru melainkan minta supaya disebut ‘saudara tertua’ saja , menurut keterangan beliau bahwa dalam mencari kepandaian pencak silat yang terpenting harus ‘mempunyai kemauan keras dan sangat berani’ .
Sumber-sumber permainan pencak silat SH asalnya telah diuraikan pada riwayat hidup Ki Ng. Soerodiwiryo dimuka , dari sumber-sumber itulah beliau mengambil sari-sarinya dengan dicampur , diteliti berdasarkan pengalaman-pengalaman sambung dan latihan di berbagai tempat , cobaan-cobaan yang didapatkan dari perguruan lain atau dari perkelahian-perkelahian .
Hasil dari pengambilan sari yang dicampur dan diubah secara teliti itulah yang memungkinkan beliau berhasil menciptakan beberapa jurus pencak silat yang digunakan sebagai dasar permainan pencak silat ‘Setya Hati’ .
ASAL MULA NAMA JURUS-JURUS PENCAK SILAT SETYA HATI
1. BETAWEN I
2. BETAWEN II
3. CIMANDE I
4. CIMANDE II
5. CIKALONG (slewah)
6. CIAMPEA I (besutan)
7. CIAMPEA II (krawilan)
8. TANAH BARU I
9. TANAH BARU II
10. PERMAINAN MONYETAN
11. CIMANDE III (kletan)
12. CIMANDE IV
13. CIMANDE V
14. CIBEDUYUT (toya)
15. PADANG PANJANG I
16. PADANG PANJANG II
17. CIPETIR
18. PADANG SIRANTI
19. SUMEDANGAN I
20. SUMEDANGAN II
21. LINTAU
22. CIMANDE VI
23. ALANG LAWAS I
24. ALANG LAWAS II
25. MINANGKABAU I (kucingan)
26. SOLOK MINANG
27. CIBEDUYUT
28. CIMANDE VII
29. TERLAKAN MONYETAN TUKANG[STERLAK](tdk diajarkan)
30. PADANG ALAI I
31. PADANG ALAI II
32. FORD DE KOCK
33. PADANG ALAI III
34. PADANG ALAI IV
35. KUDA BATAK
36. SIPAI MINANG III (blirik)
Oleh karena dalam penulisan ‘buku peringatan’ ini bukan untuk digunakan sebagai buku pelajaran pencak silat , maka disini tidak ditulis ataupun digambar bagaimana wujud dan cara mengerjakan jurus-jurus pencak silat SH .
Senin, 02 November 2015
Janji ANGGOTA Setia Hati TerateJanji ANGGOTA Setia Hati Terate
Janji Setia anggota Setia Hati Terate, dengan rendah hati dan penuh kesabaran kami berjanji :
I. Sebagai anggota Setia Hati Terate, kami akan senantiasa bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa.
II. Sebagai anggota Setia Hati Terate, bagiku adalah sarana untuk mendewasakan jasmani maupun rohani.
Oleh karena itu, harus dijaga dan diselamatkan keharumannya.
III. Sebagai anggota Setia Hati Terate, kami akan senantiasa berdisiplin, patuh, dan setia pada peraturan-peraturan, tata tertib dan kewajiban yang diinstruksikan oleh pemimpin.
IV. Sebagai anggota Setia Hati Terate, kami akan senantiasa saling kasih mengasihi dengan penuh persaudaraan.
V. Sebagai anggota Setia Hati Terate, kami akan patuh dan berdisiplin dalam berlatih.
VI. Sebagai anggota Setia Hati Terate, kami akan memupuk rasa rendah hati dan penuh cinta kasih terhadap sesama manusia umumnya dan pada Setia Hati Terate khususnya.
VII. Sebagai anggota Setia Hati Terate, kami tidak akan sombong dan menggunakan pengetahuan Setia Hati Terate di sembarang tempat.
Demikian janji kami, biarlah saudara-saudara tua kami yang hadir pada saat ini menjadi saksi dan biarlah Tuhan Yang Mahaesa memberkati dan memberikan tuntunan, amin.
napak tilas [eyang suro]
Sumber Ilmu Kebhatinan bdan Ilmu Pencak Silat dari Persaudaraan Setya Hati yang diajarkan oleh Ki Ngabehi Soerodiwiryo adalah ‘SARI-SARI’ ajaran yang beliau dapatkan dari berguru pada para pendekar pada jamannya , dan digunakan sebagai dasar pemberian pelajaran kepada keluarga besar Persaudaraan Setya Hati sampai sekarang .
SUMBER ILMU KEBHATINAN
PERTAMA : Didapat dari GUSTI KENANGA MANGGA TENGAH asal dari Bali yang bernama asli NYOMAN IDE GEMPOL yang bertempat tinggal di Oleleh (Aceh) , seorang Ponggawa Besar yang diselong ( diasingkan ) dibuang oleh Pemerintah Kolonial Belanda ke Aceh . Dari beliau didapat wejangan ilmu kebhatinan yang oleh Ki Ngabehi Soerodiwiryo dipergunakan sebagai syarat-syarat penerimaan saudara-saudara SH baru yang berujud : Air Kecer , Mori Putih , Lambang-lambang , Uang Ketengan (yang mempunyai nilai terendah) , Letak Kekuatan Tubuh Manusia Tiap Hari ( makna sircle ) , pemberian wejangan ini disebut WEJANGAN TINGKAT PERTAMA ( Trap Pertama ) .
KEDUA : Didapat dari DATUK RADJO BATUAH , yang merupakan ajaran / wejangan Ilmu Kebhatinan dari Sumatra Barat yang berujud 2 (dua) kalimat rafal yang bermaksud ‘menyadarkan diri manusia’ dengan segenap akal budi nya secara totalitas kepada Allah beserta Rosulnya , agar diri atau tubuh terhindar dari segala mara bahaya .
2 ( dua ) kalimat rafal dari Datuk Radjo Batuah ini diajarkan kepada saudara-saudara SH sebagai WEJANGAN TINGKAT KEDUA ( Trap Kedua ) .
Wejangan Tingkat Kedua mengandung 3 (tiga) kalimat rafal , adapun rafal ke tiga didapat dari K.A.A.Serang Soeronegoro ( Bupati Kediri yang meninggal Th.1916 M ) . Dari Bupati Kediri ini selain mendapat rafal ketiga , kepada Ki Ngabehi Soerodiwiryo juga diberikan ‘Coretan Gaib’ dimana sebelum membuat coretan gaib ini , seseorang harus menebus dengan laku puasa membisu .
Apabila para saudara ingin menyaksikan dipersilahkan datang dipendopo Kabupaten Kediri dan mengamat-amati ukir-ukiran pada ompak (alas) empat sokoguru (tiang) pendopo kabupaten tersebut .
Coretan Gaib ini tidak termasuk ‘wejangan tingkat kedua’ , tetapi diberikan beliau kepada para saudara SH yang selalu dekat dengan beliau dengan tambahan syarat harus sanggup mencari cara menulis dan membuatnya .
KETIGA : Didapatkan juga dari GUSTI KENANGA MANGGA TENGAH selain wejangan tingkat pertama ( trap pertama ) , diterima untuk saudara-saudara SH terpilih untuk mendapatkan WEJANGAN TINGKAT KETIGA ( Trap Ketiga ) , dimana wejangan ini merupakan ajaran tertinggi bagi saudara-saudara SH tentang ‘SANGKAN PARANING DUMADHI’ yang mengajar kepada saudara SH untuk mengenal ‘Sangkaning dumadhi’ dan pada akhirnya nanti tahu kemana ‘Paraning Dumadhi’ .
Bagi saudara-saudara SH yang telah mendapatkan wejangan lengkap tersebut diatas , sudah diberi kewenangan untuk menjadi ‘Juru Kecer’ dalam penerimaan saudara-saudara SH baru secara dulu Ki Ngabehi Soerodiwiryo almarhum melaksanakan .
SUMBER PENCAK SILAT
Salah seorang guru pencak silat yang dianggap terbaik permainannya disamping memberi wejangan-wejangan ‘Dua Kalimat Rafal’ adalah DATUK RADJO BATUAH dari Sumatra Barat .
Dimana nama ‘Datuk Radjo Batuah’ selalu diperingati pada tiap-tiap selamatan upacara penerimaan saudara SH baru , lain guru dan pendekar tidak disebutkan namanya pada selamatan ini , tetapi beberapa permainan pencak silat yang dianggap penting yang melengkapi jurus-jurus pencak setya hati selalu diperingati dengan selamatan pada upacara tersebut .
Selain memperingati permainan-permainan pencak silat yang akan dipelajari tiap saudara saudara SH pada selamatan itu harus pula ‘memperingati asal mula terjadinya sebagai manusia dan letak berdirinya dibumi ini’ .
Peringatan yang terakhir ini , tidak hanya pada waktu upacara penerimaan saudara baru saja , tetapi tiap-tiap berhajat apa saja beliau selalu mengingatkan saudara-saudara tua SH dahulu untuk supaya tidak lupa ‘Ingat akan Sangkan Paraning Dumadhi’ , sehingga pada waktu berlatih sambung diwujutkan dengan ‘Uluk Salam’.
Upacara selamatan dimaksud agar saudara SH yang mempunyai hajad itu memperingati awal mulanya hidup didunia ini , dan yang kedua ialah agar supaya mendapat restu dan berkenan menerima wejangan-wejangan ilmu kebatinan dan permainan pencak silat guna dapat mengalahkan segala bahaya .
Kejujuran Ki Ngabehi Soerodiwiryo yang selalu dibuktikan ialah , bahwa beliau selalu tidak melupakan jasa-jasa gurunya . Pada waktu-waktu memberikan pelajaran pencak silat selalu ditegaskan bahwa tegak-tegak ( stand ) atau langkah-langkah dan gerakan-gerakan tangan yang diajarkan itu didapat dari pendekar A dan B , dan permainan -permainan dari daerah C dan D dan begitu seterusnya . Demikian juga halnya dengan ilmu kebhatinan nya .
Beliau dikalangan persaudaraan SH tidak suka disebut guru melainkan minta supaya disebut ‘saudara tertua’ saja , menurut keterangan beliau bahwa dalam mencari kepandaian pencak silat yang terpenting harus ‘mempunyai kemauan keras dan sangat berani’ .
Sumber-sumber permainan pencak silat SH asalnya telah diuraikan pada riwayat hidup Ki Ng. Soerodiwiryo dimuka , dari sumber-sumber itulah beliau mengambil sari-sarinya dengan dicampur , diteliti berdasarkan pengalaman-pengalaman sambung dan latihan di berbagai tempat , cobaan-cobaan yang didapatkan dari perguruan lain atau dari perkelahian-perkelahian .
Hasil dari pengambilan sari yang dicampur dan diubah secara teliti itulah yang memungkinkan beliau berhasil menciptakan beberapa jurus pencak silat yang digunakan sebagai dasar permainan pencak silat ‘Setya Hati’ .
ASAL MULA NAMA JURUS-JURUS PENCAK SILAT SETYA HATI
1. BETAWEN I
2. BETAWEN II
3. CIMANDE I
4. CIMANDE II
5. CIKALONG (slewah)
6. CIAMPEA I (besutan)
7. CIAMPEA II (krawilan)
8. TANAH BARU I
9. TANAH BARU II
10. PERMAINAN MONYETAN
11. CIMANDE III (kletan)
12. CIMANDE IV
13. CIMANDE V
14. CIBEDUYUT (toya)
15. PADANG PANJANG I
16. PADANG PANJANG II
17. CIPETIR
18. PADANG SIRANTI
19. SUMEDANGAN I
20. SUMEDANGAN II
21. LINTAU
22. CIMANDE VI
23. ALANG LAWAS I
24. ALANG LAWAS II
25. MINANGKABAU I (kucingan)
26. SOLOK MINANG
27. CIBEDUYUT
28. CIMANDE VII
29. TERLAKAN MONYETAN TUKANG[STERLAK](tdk diajarkan)
30. PADANG ALAI I
31. PADANG ALAI II
32. FORD DE KOCK
33. PADANG ALAI III
34. PADANG ALAI IV
35. KUDA BATAK
36. SIPAI MINANG III (blirik)
Oleh karena dalam penulisan ‘buku peringatan’ ini bukan untuk digunakan sebagai buku pelajaran pencak silat , maka disini tidak ditulis ataupun digambar bagaimana wujud dan cara mengerjakan jurus-jurus pencak silat SH
wejangan kasampurnan
![]() |
| Add caption |
I. SUATU PERTANYAAN PRINSIP
SETIA HATI BUKAN NAMA PERGURUAN, BUKAN NAMA ORGANISASI AKAN TETAPI SUATU AJARAN/SUATU PRINSIP HIDUP/SUATU PETUNJUK MENUJU KASAMPURNAN
TAHUKAH KITA, APA MAKNA & TUJUAN SEBENARNYA DARI FALSAFAH “SETIA HATI“ ?
APAKAH KITA TELAH MENYADARINYA DAN MELAKUKANNYA ?
BAGAIMANA METODE YANG KITA PERGUNAKAN ?
INTI FALSAFAH “ SETIA HATI “
TERDIRI DARI DUA SUKU KATA : “ SETIA “ & “ HATI “
ARTI MAKSUD :
“ SETIA (KATA PERBUATAN SATU) “ DARI DIRI
DIRI :
WADAG (diatur oleh nafas, tanah, api, dan udara) DAN NYAWA/BADAN HALUS/KARTIKO–SUWASONO (menjadi badan kehalusan, dilengkapi Napsu2, dihidupkan oleh Nur Illahi, dijaga Malaikat & para Kadang sak kelahiran)
KEPADA HATI NURANI :
Yang dimaksud adalah NUR ILLAHI/INGSUN/URIP LANGGENG yang bersemayam didalam hati nurani.
Jadi:
SETIA HATI merupakan Falsafah Hidup, bahwa manusia Setia Hati adalah manusia yang sadar MENYATU antara WADAG (RAGA DAN NYAWA) dengan NUR ILLAHINYA ATAU SUKMA
RAGA DAN NYAWA YANG SETIA KEPADA “OSIKING KOLBU KANG SUCI/DAWUHING GUSTI“
Sehingga dapat diperjelas menjadi KESETIAAN TULUS DARI MANUSIA UTUH RAGA DAN NYAWA KEPADA TUHANNYA YANG MAHA SUCI, MAHA KUASA, KANG TAN KENO KINOYO NGOPO, KANG TANPO WINATES.
MANUSIA SETIA YAITU KATA PERBUATAN SATU.....PERBUATANNYA AKAN SAMA DENGAN PERKATAANNYA....SATU ATAU MANUNGGAL YAITU SUKMA KITA YANG MANUNGGAL DENGAN GUSTI, DAWUHING GUSTI ATAU BIMBINGAN NUR ILLAHI YANG BERSEMAYAM DI DALAM HATI NURANI. WADAG (RAGA DAN NYAWA) HANYALAH BUNGKUS. PERUMPAMAAN MANUNGGAL ADALAH SEPERTI GULA YANG MANUNGGAL DENGAN RASA MANISNYA, SEPERTI GARAM YANG MANUNGGAL DENGAN RASA ASINNYA, SEPERTI PENULIS YANG MANUNGGAL DENGAN PENANYA, SEPERTI PENARI YANG MANUNGGAL DENGAN TARIANNYA.TERCAPAI KESADARAN BAHWA MANUSIA HANYA RASA MANISNYA BUKAN GULA, MANUSIA HANYA RASA ASINNNYA BUKAN GARAM, MANUSIA HANYA PENANYA BUKAN PENULIS, MANUSIA HANYA TARIANNYA BUKAN PENARI.SEMUA MILIK DAN KARYA KITA DI DUNIA HANYA MILIK SANG SUMBER SEDANGKAN KITA HANYA ALATNYA SAJA. SEHINGGA TERCAPAI KESADARAN TULUS YANG DI HAYATI DENGAN BAIK BAHWA KITA SEMUA HARUS BERTERIMA KASIH KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA ATAS SEMUA KEJADIAN DAN KEADAAN YANG DIBERIKAN KEPADA KITA. KITA HARUS NDEREK KERSANE GUSTI.
II. SAPTO WASITO TOMO
1)TUHAN MENCIPTAKAN ALAM SEMESTA SEISINYA DENGAN MELALUI SABDA NYA. SEBELUM DISABDA, SEGALA SESUATU BERADA PADA YANG MENYABDA
SEBELUM BUMI LANGIT ADA, MASIH PADANG AWANG UWUNG BELUM TERDAPAT APAPUN, YANG ADA ADALAH TUHAN = DZAT = HIDUP SEMPURNANYA TUHAN = DZAT HIDUP ABSOLUT, YANG MENGHIDUPI “
MARGA WASPADA –MARGA WASKITA –MARGA BIJAKSANA “
GERAK DZAT HIDUP MENIMBULKAN PENJELMAAN, YANG KEMUDIAN DISERTAI SUARA GURUH DAHSYAT, JADILAH ALAM SEMESTA SEISINYA “ KUN FAYAKUN “ APA YANG DISABDAKAN MAKA JADILAH ITULAH SABDA SANG ESA
KATA2 : TUHAN –ALLAH –DZAT –YAHWE - GOD = TUTUR KATA MAKNAWIYAH DALAM HAKEKAT FILSAFAT JIWA SEMPURNA DARI HIDUP TUHAN YANG LANGGENG KATA2: TUHAN –ALLAH = ANCAR2 SUATU PENUNJUKAN
2)SETELAH ALAM SEISINYA DISABDAKAN, MAKA TUHAN MENYERTAI SABDANYA
CIPTA DARI SABDA YANG ESA, ADALAH MANIFESTASI PENJELMAAN UCAP, YANG DISEBUT “ SUATU HIDUP YANG ESA “ CIPTA YANG TERJADI DARI SABDA NYA, MENGANDUNG DIA YANG MENYABDA SELAMA ALAM SEMESTA MASIH ADA, MAKA YANG MAHA ESA TETAP MENYERTAINYA & ADA KEHIDUPAN
DIA YANG MENYERTAI ITU, BERSEMAYAM DALAM LUBUK HATI SANUBARI /ANGKASA JANTUNG KEHIDUPAN BILA KEHIDUPAN ITU DITIADAKAN, MAKA DENGAN SENDIRINYA KEMBALI KEALAM SEMULA, IALAH ALAM SUWUNG/SONYA {Pada kebatinan Islam Jawa, disebutkan, Tuhan dalam diri manusia bersemayam dalam jagadte manungso yaitu : JONOLOKA/BETAL MUKADAS dikemaluan manusia (rumah tempat MANUSIA di sucikan) –ENDROLOKA /BETAL MUKARAM (rumah tempat MANUSIA diberikan larangan-larangan) dipusat jantung manusia –GURULOKA / BETAL MAKMUR di ubun2 atau susuhunan manusia (rumah tempat MANUSIA diberikan angan-angan atau inspirasi atau kecerdasan) } dimana ketiga Loka/Betal tersebut disebut dengan istilah TRILOKA)
3)BARANG SIAPA MELUPAKAN/MENINGGALKAN AS/SUMBERNYA, MAKA IA AKAN TERGELINCIR OLEH INGKUNGANNYA
AS/SUMBER = GELAR KESAKTIAN YANG MAHA ESA, YANG BERSEMAYAM DALAM ANGKASA JANTUNG MANUSIA
AS/SUMBER = INTI SUBYEKTIFITAS YANG RELATIF = SIFAT ABSOLUT YANG MAHA ESA, YANG SELALU DALAM LINGKUNGAN KEHIDUPAN SEMPURNA
MENINGGALKAN AS / SUMBERNYA, BERARTI TERGELINCIR DARI LINGKUNGAN HIDUPNYA SENDIRI.
(Dalam kebatinan Timur, AS tersebut juga diartikan sebagai AXIS MUNDI, ialah AS/GARIS TEGAK LURUS yang menembus center ketiga dunia, ialah Dunia Arwah, Dunia Manusia, Dunia Tuhan, sehingga siapapun yang jauh dari As tersebut, akan jauh pula dari getaran hidup sempurna, dan demikian pula sebaliknya)
4)BARANG SIAPA TERLEPAS ATAU MENINGGALKAN KESEIMBANGAN, DIA AKAN TERGELINCIR
SECARA METAFISIKA, ARTI DARI KALIMAT DIATAS TERSIRAT DALAM KETERANGAN SAPTO WASITO TOMO KETIGA
PENGERTIAN LAINNYA ADALAH BAHWA KEBERADAAN AS/SUMBER DALAM WADAG, DIGAMBARKAN OLEH KEBERADAAN KELUAR MASUKNYA HAWA/PRANA/NAFAS SECARA WAJAR SEHINGGA BILA TIDAK DEMIKIAN, PASTI AKAN MENIMBULKAN HAL2 NEGATIF PADA WADAG JADI DIDALAM HIDUP
INI SELALU HARUS DIJAGA BERNAFAS SECARA TERATUR SEMPURNA, SESUAI DENGAN SIKON YANG DIHADAPI MANUSIA
(Ajaran bernafas secara benar dan sempurna, banyak ditemukan pada bermacam aliran, yang tergantung kepada untuk pengaturan pernafasan tujuan apa hal itu dilakukan).
5)BARANG SIAPA MELUPAKAN AWAL ATAU PERMULAAN, DIA TAK AKAN MUNGKIN MENCAPAI AKHIR ATAU TAK AKAN MUNGKIN MENG AKHIRI NYA
SAMADIWAN HARUS MENJALANKAN PERSIAPAN MATANG DENGANTEKAD DAN NIAT BULAT UNTUK MEMANTABKAN JADWAL PERMULAAN DAN PENGAKHIRAN SAMADINYA. JANGAN SE KALI2 MELAKUKAN “ COBA2 “
NIAT MEMULAI, HARUS TELAH DILANDASI KEBERANIAN KUAT DAN TABAH, DISERTAI KEPERCAYAAN DIRI PENUH, UNTUK PASRAH JIWA RAGA, PASRAH HIDUP MATI KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA
JANGAN DIKOTORI OLEH INGATAN SEDIKITPUN MENGINGINKAN PAHALA KERJA DAN PAMRIH, KARENA HAL ITU AKAN MENGGOYAHKAN PERMULAAN KITA DAN MENGABURKAN ARAH TUJUAN KITA
(Dalam ajaran Jawa, Sapto Wasito Tomo yang kelima ini mengandung arti INTI yang merupakan salah satu pokok menuju kasampurnan, ialah KEDAH PONO DUMATENG “ SANGKAN PARANING DUMADI “ = harus mengetahui darimana sebenarnya hidup ini, untuk apa hidupmu ini dan kemudian setelah itu akhirnya kita akan menuju kemana nanti)
6)BARANG SIAPA MENGAKUI HASIL KARYANYA SEBAGAI MILIKNYA SENDIRI, DIA AKAN TERBELENGGU OLEHNYA
BILA SAMADIWAN YANG KEMUDIAN MENCAPAI TINGKAT TINGGI DAN DAPAT MENCAPAI IDAMAN TUJUANNYA, SELANJUTNYA MENGATAKAN BAHWA DIRINYA SUDAH MENDAPATKAN/MEMILIKI HASIL TAPA BRATANYA, HASIL PAHALA KERJANYA, DAN AKHIRNYA MENGAKU BAHWA DIALAH PEMILIK SEMUANYA INI, MAKA MEREKA ITU AKAN TERHUKUM OLEH CIPTA/UCAPAN NYA SENDIRI
(Dalam Kejawen, amat diharamkan atau dihindari pengakuan akan KEBISAAN/KEISTIMEWAAN nya ini dihadapan umum atau diri sendiri, karena hal tersebut berarti bahwa dia masih GILA KADONYAN, bahkan condong MENYEKUTUKAN TUHAN. Dalam Suluk Karaton, tahap ini disebut sebagai TAHAP SAMPAI SITIHINGGIL yang amat gawat. Meleset sedikit maka dia akan TERBANTING KEMULA TAPABRATA YANG AMAT SUKAR UNTUK MEMULAINYA LAGI MENDAPATKAN PERKENAN HYANG WIDHI)
7)BARANG SIAPA SELALU MELATIH DIRI UNTUK DAPAT ATAU MERASAKAN SUMBER DARI RASA, NISCAYA IA AKAN MERASAKAN RASA YANG SEJATI, YAITU MERASAKAN SESUATU TANPA ALAT TUBUH (KAROSO TANPO SALIRO)
BILA INGIN MENCAPAI KESADARAN SAMADHI YANG SEMPURNA, PERMULAANNYA HARUS DIJALANKAN DENGAN MELAKUKAN LATIHAN2 SERIUS YANG BER ULANG2, TANPA BIMBANG DAN RAGU APALAGI BOSAN. SEHINGGA SETAHAP DEMI SETAHAP PENGUASAAN “ RASA “ ITU MENJADI SEMAKIN “ LICIN “ DAN LAMA KELAMAAN MEMUNCAK KE SIKON KESADARAN ROHANI TINGGI
DENGAN LATIHAN KONTINU DAN SERIUS, AKAN DAPAT MENEMBUS KEALAM RAHSO SEJATI (=ALAM DIMANA TAK ADA PERASAAN, TAK ADA INGATAN ALAM PELEPASAN, ALAM MERDEKA, ALAM MUKTI, NIRWANA, ALAM MOKSA DST)
(dalam ajaran kejawen, terdapat kata2 “ SUKSMO TELENG ING SAMADI “. Dalam Suluk Karaton, hal ini masuk dalam tahapan laku “ LEWAT KORI BROJONOLO, KEMUDIAN BERTAHAP MASUK KEDALAM KARATON INTI. Dalam Tasauf, hal ini masuk dalam tataran laku OLAH ROSO untuk mencapai WAHDATUL SUHUD, ialah MANUNGGALING ROSO KAWULO GUSTI)
BUKAN AZIMAT, BUKAN KERAMAT, TETAPI PENGETAHUAN DAN PETUNJUK PRINSIP MENUJU “ SETIA HATI “
SEMUA WARGA SH MULAI TINGKAT I SAMPAI III HARUS MENGERTI, MENYADARI DAN MELAKSANAKANNYA SECARA BERJENJANG, BERTINGKAT, SESUAI TINGKATNYA, KEMATANGAN DIRINYA, DAN KEMANTABAN TUJUANNYA
APAKAH KITA JUGA TELAH MELAKUKANNYA ?
INTI SARI SAPTO WASITO TOMO SETIA HATI:
KITA ADALAH MAHLUK CIPTAAN TUHAN YANG MAHA ESA DAN DIDALAM DIRI KITA TUHAN BERSEMAYAM DIDALAM HATI SANUBARI KITA
BERUSAHALAH UNTUK MENGETAHUI DAN MENYADARI “ SANGKAN PARANING DUMADI “ DAN BERUSAHALAH SELALU MELAKSANAKAN “ HAMAMAYU HAYUNING BAWONO “ DALAM HIDUP KITA DIDUNIA
DENGAN MENGERTI “ SANGKAN PARANING DUMADI “ DAN KEMUDIAN MELAKUKAN “ HAMAMAYU HAYUNING BAWONO “ MAKA KITA AKAN MENUJU LURUS KEARAH TUJUAN AKHIR KITA, IALAH KEMBALI KEALAM ASAL MULA KITA DENGAN SEMPURNA
UNTUK ITU MELATIH OLAH ROSO SECARA BERTAHAP, SEHINGGA MENCAPAI ROSO SEJATI, PERLU DILAKUKAN UNTUK SETAHAP DEMI SETAHAP LELAKU urip sajroning pati - pati sajroning urip, DALAM PERSIAPAN AKHIR HIDUP KITA SECARA SEMPURNA NANTI
DENGAN MELAKUKAN LATIHAN SAPTO WASITO TOMO MAKA UNTUK MENCAPAI KASAMPURNANING GESANG ING DONYA & UNTUK MENCAPAI KASAMPURNANING BALI MYANG SUWUNG AKAN MENDEKATI KENYATAAN
III. TINGKAT & WARNA JURUS SH
TINGKAT I
TERDIRI 36 JURUS POKOK ATAS / BERDIRI GERAK LURUS –ZIKZAK –KEBLAT PAPAT LIMO PANCER gerak aktif, cepat, tepat Prinsip Falsafah : “ BERANI ITU BENAR, TAKUT ITU SALAH “
TINGKAT II
TERDIRI DARI 25 JURUS POKOK BAWAH, gerak pasif tetapi awas, reflektiff, tepat Prinsip Falsafah: “ BERANI KARENA BENAR, TAKUT KARENA SALAH “
TINGKAT III
TERDIRI DARI 1 JURUS POKOK DIAM ALIF, Diam tiada gerak, anteng, manteng sugeng, jineng Prinsip Falsafah : “ BERANI ITU SALAH, TAKUT JUGA SALAH “
APA MAKNA YANG TERSIRAT DIDALAMNYA
TINGKAT I
TERDIRI 36 JURUS POKOK ATAS / BERDIRIGERAK LURUS –ZIKZAK – KEBLAT PAPAT LIMO PANCER gerak aktif, cepat, tepat Prinsip Falsafah : “ BERANI ITU BENAR, TAKUT ITU SALAH “
Tingkat ini disebut sebagai tingkat awal, dimana SH yer dilatih untuk BERANI MENGHADAPI HIDUP (BUKAN BERANI MATI),MENERJANG TUNTAS APAPUN PENGHALANG YANG ADA DIDEPANNYA. Rawe2 rantas, Malang2 putung.
“ Keberanian “ adalah KEMENANGAN YANG PERTAMA HIDUP KERAS PENUH TANTANGAN DISINI NGELMU “ KANOMAN “ amat dominan untuk menghadapi kekejaman duniawi.
TINGKAT II
TERDIRI DARI 25 JURUS INTI BAWAH, gerak pasif tetapi awas, GERAKKAN SECARA REFLEKS, dan harus tepat Prinsip Falsafah: “ BERANI KARENA BENAR, TAKUT KARENA SALAH “. SHyer dididik menyatukan CIPTA –RASA –KARSA nya
Gerak bawah reaktif cepat dan tepat. Setiap jurus merupakan pertahanan dan serangan balik. Serangan-serangan sudah tidak mematikan lawan, hanya membuat lawan mundur dan mengurungkan serangan.
TINGKAT III
Jurus ini terbagi dalam 3 bagian:
Bagian 1, filosofinya merupakan puncak kanuragan, sekali gerak musuh harus mati. "nora nono srengenge kembar".
Bagian 2, filosofinya sama dengan bagian 1 tapi energi di kurangi sesuai dengan kekuatan lawan. TIDAK MAU KALAH TAPI JUGA TIDAK MAU MENANG.
Bagian 3, filosofinya berani salah takut juga salah. Akhir dari semua kita sudah diam tidak ada jurus. PASRAH NDEREK KERSANE GUSTI.
JADI:
TINGKAT DAN JURUS SETIA HATI PUN PADA HAKEKATNYA MERUPAKAN GAMBARAN PETUNJUK/SULUK BAGAIMANA HIDUP DIDUNIA SECARA SEMPURNA DAN BAGAIMANA KITA DAPAT MATI SECARA SEMPURNA SEHINGGA HIDUP LANGGENG MENYATU DENGAN TUHAN
DALAM AJARAN PARA LELUHUR JAWA, TERSURAT DAN TERSIRAT APA YANG DIMAKSUD SAMPURNA SEBAGAI BERIKUT:
Dari sudut Kepribadian, mengidealkan MENUNGSO KANG “ SATRIYO PINANDITO “
Dari sudut Sosial, mengidamkan MANUNGSO KANG BISO MANJING AJUR AJER, KANG BISO RUMONGSO, ORA RUMONGSO BISO
Dari sudut Ekonomi , mengidealkan MENUNGSO KANG URIPE GANGSAR REJEKINE
Dari sudut Politik, mendambakan PIMPINAN KANG ASIPAT “ MANGKU –MENGKU – HAMENGKONI “
Dari sudut Kebudayaan, mengidealkan SENI KANG ADILUHUNG
Dari sudut Ilmu Pengetahuan, mendambakan MENUNGSO KANG MUMPUNI LAN NIMPUNO
Dari sudut ke Tuhan an mengidealkan MANUNGSO KANG SAMPURNA
Dari sudut Filsafat, mendambakan MENUNGSO KANG NGREGEM BENER TUR PENER
Dari sudut Spiritual mendambakan MANUNGGALING KAWULO GUSTI
INTI LELAKU MANUSIA SH:
DASARNYA MENGERTI DAN MENYADARI SANGKAN PARANING DUMADI
LAKU HORIZONTAL HAMAMAYU HAYUNING BAWONO LAKU VERTIKAL MANUNGGALING KAWULO GUSTI MANUNGGALING JAGAD AGENG LAN JAGAD ALIT
ALAM SEMESTA = JAGAD ALIT, BATIN MANUSIA = JAGAD AGENG. BATIN MANUSIA DI DALAM ADALAH JAGAD YANG LEBIH BESAR DARI ALAM SEMESTA DI LUAR.
MANUSIA HARUS SELALU MELATIH MENYATUKAN DIRI DENGAN ALAM MELALUI:
NGANGKAH Berniat teguh, sungguh2, tiada ragu secuilpun
NGUKUT Menghentikan pakarti ala dari jiwa maupun raga
NGIKET mengikat dan memusatkan jiwa pada satu tujuan
NGRUKET, TRIKALOKA KAKUKUT mengikat dan menyatukan jagadte manungso: Janaloka/Betal Mukadas, Endraloka/Betal Mukaram, Guruloka/Betal Makmur
SETIA HATI YANG DILENGKAPI DENGAN SAPTO WASITO TOMO & TIGA TINGKATAN2 JURUS SILAT NYA MERUPAKAN PENGETAHUAN DAN PETUNJUK PENTING MENUJU KASAMPURNAN
AJARAN SETIA HATI BISA DIPELAJARI DAN DIPRAKTEKKAN BERDASARKAN KEMAUAN DAN KEMAMPUAN PRIBADI MASING-MASING. DARI SEKIAN BANYAK PERBENDAHARAAN ILMU CARILAH YANG PALING COCOK UNTUK DIRI SENDIRI DAN BILA MENYANGKUT ORGANISASI HORMATILAH PERATURAN ORGANISASI DAN BILA MENYANGKUT PERSAUDARAAN HARUS MENGUTAMAKAN TATA KRAMA, TEPO SELIRO DAN HAK AZASI MANUSIA. MANUSIA PADA DASARNYA SELALU BODOH DAN LAPAR SEHINGGA MEMERLUKAN ILMU PENGAJARAN UNTUK MENGURANGI KEBODOHAN DAN MENGATASI RASA LAPAR KEINGINTAHUANNYA.CARILAH ILMU SAMBIL HAMAMAYU HAYUNING BAWONO.
Mangkono janmo Utomo
Temen tumanening sepi
Ing saben rikala mangsa
Mangsako memasuh budi
Lahire hanetepi
Ing reh kasatriyanipun
Susilo anor raga
Wignyo net tyasing sesami
Yeku aran wong borek berang agama
Artinya:
Demikianlah orang utama
Secara teratur melakukan latihan semedhi
Pada waktu dan tempat tertentu
Berusaha kedalam menguasai dan mencuci budi pekerti
Secara keluar menepati segala hukum dan tugas yang menjadi tanggung jawabnya
Tingkah lakunya sopan santun dan rendah hati
Pandai membuat gembiranya orang lain
Itulah yang dikatakan orang yang telah putih dan antusias pada agama
Marilah kita sekarang kita melihat Ke Maha Esaan Tuhan, yang ada di dalam tubuh kita dengan penyerahan yang setulus-tulusnya. Kita akan melihat apa kehendak Tuhan tehadap kita dan keluarga kita dengan mata batin.
tokoh psht
Beliau adalah murid dari Ki Hadjar Hardjo Oetomo ( Pendiri PSHT ). R.M. Soetomo Mangkoedjojo adalah seorang Pendekar Tingkat III , R.M. Soetomo Mangkoedjojo disyahkan menjadi pendekar tingkat I pada tahun 1928. Berikut murid – murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang disyahkan pada tahun 1928 adalah sebagai berikut :
- Bapak Soetomo Mangkoedjojo ( Madiun )
- Bapak Hardjosajano alias Hardjo Girin ( Kepatihan Madiun )
- Bapak Moch Irsad ( Madiun )
- Dewan pengesah : Ki Hadjar Hardjo Oetomo
- Pelaksanaan Pengesahan : Di kediaman Ki Hadjar Hardjo Oetomo, Desa Pilangbango Madiun.
Kemudian pada tahun 1936 R.M. Soetomo Mangkoedjojo mendirikan Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Ponorogo, dan pengesahan pertama dilakukan pada tahun 1938 yang mengesahkan sebanyak 4 orang.
Pada tahun 1948 beberapa murid Ki Hadjar Harjo Oetomo antara lain Soetomo Mangkoedjojo, Darsono, Suprodjo, Hardjo Giring, Gunawan, Hadisubroto, Hardjo Wagiran, Letnan CPM Sunardi, Sumadji al. Atmadji, Badini, Irsad dan kawan – kawan mempunyai prakasa untuk mengadakan konfrensi di tempat kediaman Ki Hadjar Harjo Oetomo . Tujuan diadakan konfrensi tersebut adalah untuk merubah / mengganti sifat Perguruan menjadi Organisasi Setia Hati Terate yang mempunyai Anggaran dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Setelah Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate dikukuhkan menjadi suatu organisasi maka di pilihlah R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai ketua dan Bapak Darsono sebagai wakil ketua.
Kemudian pada tahun 1953 karena pekerjan beliau dipindah tugaskan ke Surabaya selanjutnya Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate diserah terimakan kepada bapak Irsad.
Pada tahun 1958 R.M. Soetomo Mangkoedjojo mengesahkan Sdr. R.M Imam Kussupangat, Sdr. Kuswanto. BA dan Sdr. Harsanto. SH menjadi warga tingkat I, pengesahan dilakukan di Oro – Oro Ombo Madiun di rumah Bapak Santoso.
Pada tahun 1963 R.M. Soetomo Mangkoedjojo melatih langsung Sdr. R.M Imam Kussupangat tingkat II. Dan pada tahun 1964 Sdr. R.M Imam Kussupangat disyahkan menjadi warga tingkat II, pengesahan dilaksanakan di Jl. Diponegoro 45 Madiun oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai Dewan Pengesah.
Pada tahun 1966 Sdr. R.M Imam Kussupangat mulai menjalani latihan tingkat III karena dianggap berhak untuk menerima ilmu Setia Hati tingkat III oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo. Dimana ilmu tersebut berdasarkan “Wahyu” dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Semenjak itu Sdr. R.M Imam Kussupangat dimulai latihan tingkat III dilatih dan disyahkan oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo ( sebagai Ketua Dewan Pusat dan Dewan Pengesah ). Maka dari itu Sdr. R.M Imam Kussupangat tidak lepas sedikitpun peranan dan bimbingan dari R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai pelatih atau disebut sebagai guru dalam pendidikan tingkat II maupun tingkat III
Tahun 1974 diselenggarakan Musyawarah Besar ( MUBES ) I Persaudaraan Setia Hati Terate dengan kesepakatan mengangkat R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai Ketua Dewan Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate dan R.M. Imam Kussupangat sebagai Ketua Umum Pusat.
Pada tanggal 14 Desember 1975 R.M. Soetomo Mangkoedjojo wafat dan dimakamkan di Makam Cangkring Madiun.
Berikut adalah kedudukan yang pernah dipegang oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo dalam organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate
- Tahun 1948 adalah Ketua Umum Pusat yang pertama Persaudaraan Setia Hati Terate ( dari “ perguruan “ menjadi “ organisasi “ )
- Tahun 1956 Ketua Umum Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate,
- Tahun 1964 Ketua Umum Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate
- Tahun 1974 Ketua Dewan Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate
Demikian sedikit perjalanan hidup tentang R.M. Soetomo Mangkoedjojo, mudah – mudahan dengan sedikit catatan ini bisa membantu untuk tambahnya pengertian dan pengetahuan kita semua agar wawasan sejarah berdirinya Persaudaraan Setia Hati Terate sampai dengan perkembangannya dapat kita ikuti dan ketahui bersama secara tepat dan benar.
- Bapak Soetomo Mangkoedjojo ( Madiun )
- Bapak Hardjosajano alias Hardjo Girin ( Kepatihan Madiun )
- Bapak Moch Irsad ( Madiun )
- Dewan pengesah : Ki Hadjar Hardjo Oetomo
- Pelaksanaan Pengesahan : Di kediaman Ki Hadjar Hardjo Oetomo, Desa Pilangbango Madiun.
Kemudian pada tahun 1936 R.M. Soetomo Mangkoedjojo mendirikan Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Ponorogo, dan pengesahan pertama dilakukan pada tahun 1938 yang mengesahkan sebanyak 4 orang.
Pada tahun 1948 beberapa murid Ki Hadjar Harjo Oetomo antara lain Soetomo Mangkoedjojo, Darsono, Suprodjo, Hardjo Giring, Gunawan, Hadisubroto, Hardjo Wagiran, Letnan CPM Sunardi, Sumadji al. Atmadji, Badini, Irsad dan kawan – kawan mempunyai prakasa untuk mengadakan konfrensi di tempat kediaman Ki Hadjar Harjo Oetomo . Tujuan diadakan konfrensi tersebut adalah untuk merubah / mengganti sifat Perguruan menjadi Organisasi Setia Hati Terate yang mempunyai Anggaran dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Setelah Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate dikukuhkan menjadi suatu organisasi maka di pilihlah R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai ketua dan Bapak Darsono sebagai wakil ketua.
Kemudian pada tahun 1953 karena pekerjan beliau dipindah tugaskan ke Surabaya selanjutnya Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate diserah terimakan kepada bapak Irsad.
Pada tahun 1958 R.M. Soetomo Mangkoedjojo mengesahkan Sdr. R.M Imam Kussupangat, Sdr. Kuswanto. BA dan Sdr. Harsanto. SH menjadi warga tingkat I, pengesahan dilakukan di Oro – Oro Ombo Madiun di rumah Bapak Santoso.
Pada tahun 1963 R.M. Soetomo Mangkoedjojo melatih langsung Sdr. R.M Imam Kussupangat tingkat II. Dan pada tahun 1964 Sdr. R.M Imam Kussupangat disyahkan menjadi warga tingkat II, pengesahan dilaksanakan di Jl. Diponegoro 45 Madiun oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai Dewan Pengesah.
Pada tahun 1966 Sdr. R.M Imam Kussupangat mulai menjalani latihan tingkat III karena dianggap berhak untuk menerima ilmu Setia Hati tingkat III oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo. Dimana ilmu tersebut berdasarkan “Wahyu” dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Semenjak itu Sdr. R.M Imam Kussupangat dimulai latihan tingkat III dilatih dan disyahkan oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo ( sebagai Ketua Dewan Pusat dan Dewan Pengesah ). Maka dari itu Sdr. R.M Imam Kussupangat tidak lepas sedikitpun peranan dan bimbingan dari R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai pelatih atau disebut sebagai guru dalam pendidikan tingkat II maupun tingkat III
Tahun 1974 diselenggarakan Musyawarah Besar ( MUBES ) I Persaudaraan Setia Hati Terate dengan kesepakatan mengangkat R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai Ketua Dewan Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate dan R.M. Imam Kussupangat sebagai Ketua Umum Pusat.
Pada tanggal 14 Desember 1975 R.M. Soetomo Mangkoedjojo wafat dan dimakamkan di Makam Cangkring Madiun.
Berikut adalah kedudukan yang pernah dipegang oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo dalam organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate
- Tahun 1948 adalah Ketua Umum Pusat yang pertama Persaudaraan Setia Hati Terate ( dari “ perguruan “ menjadi “ organisasi “ )
- Tahun 1956 Ketua Umum Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate,
- Tahun 1964 Ketua Umum Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate
- Tahun 1974 Ketua Dewan Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate
Demikian sedikit perjalanan hidup tentang R.M. Soetomo Mangkoedjojo, mudah – mudahan dengan sedikit catatan ini bisa membantu untuk tambahnya pengertian dan pengetahuan kita semua agar wawasan sejarah berdirinya Persaudaraan Setia Hati Terate sampai dengan perkembangannya dapat kita ikuti dan ketahui bersama secara tepat dan benar.
Langganan:
Postingan (Atom)






